Obrolan Blok Lapao-pao di Facebook

  • Alhamdulillah, Tanah merah (Blok Lapao-pao) telah bangun dari tidur panjangnya dengan dimulainya aktifitas eksplorasi PT. Ceria melalui pintu dukungan masyarakat Ponrewaru. Konsep yang telah disepakati antara PT. Ceria bersama beberapa Kepala Desa dan Lurah, antara lain:
    1. Masyarakat menjamin ‘keamanan’ aktifitas PT. Ceria,
    2. PT. Ceria akan mengirim sampel sebanyak 7 Kapal (400.000 Ton) Ore ke luar negeri,
    3. Pemerintah desa akan menerima bantuan dana masing-masing 2 milyar untuk 4 desa 2 keluarahan plus 2 milyar untuk pemerintah kecamatan (Total 14 milyar) per tahun sampai pada tahun 2014,
    4. Masyarakat/pemilik lahan akan diberikan dana kompensasi setelah pabrik berdiri pada tahun 2015, masing 10 milyar untuk 4 desa dan 2 keluarahan .

    Pertanyaannya: Sudah seimbangkah antara nilai tambah yang akan diperoleh oleh masyarakat dengan resiko ancaman lingkungan, budaya/gaya hidup, dan keamanan yang mau tak mau adalah konsekwensi yang harus diterima oleh masyarakat? Mohon tanggapan teman2 semua. Terima kasih.

    Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · 16 Januari pukul 11:30
      • Rachmat Ardiansyahwahh,,, ini juga memang mrpkn mslh pelik om, sbuah twran yg mnggiurkan,namun jika qt mlhat k dpan, btuuul ini bisa sj jd preseden bg lingkungan qt (ponre,dll). sbnrnya sy jg blm mempelajari lbh jauh trkait proyek bsar ini, nmun bg saya hnya bisa menilai dr bukti2 empiris yang ad saja. apkh d daerah2 lain telah ad smcam proyek sbesar ini kmudian qt bz mlhat ap benar ada dampak negatif yang besar yg dtimbulkan olehnya, dan sberapa bsar dampak itu bz mengganggu/mmengancam keamanan dan khdupan bermasyarakat,???,qt yakin dan sadar bhwa mw tdk mw dampak itu psti akan ad,,,

        16 Januari pukul 15:49 · Suka
      • Rachmat Ardiansyahbtw,, ni di lap mana yh ponre ato lapaopao?

        16 Januari pukul 16:53 · Suka
      • Ihwan Kadir Sebagai orang yang tidak bodoh, saya tidak ingin berkomentar lebih jauh, karena 50% saja kecerdasan saya yang saya gunakan untuk mengkaji konsep diatas, orang sekampung sudah heboh, apa lagi kalau samapai 75%…..hehehehe…bercanda, nak…
        Btw, Gedung yang nampak dibelakang itu adalah bekas sekolah saya……

        16 Januari pukul 21:07 · Suka
      • Rachmat Ardiansyahhehehe…. pantas bapakku blng masyarkat ponre smpat gempar coz tuk pertama kali ad helikopter landing d lapangan ponre..ckckck *sesuatuu

        16 Januari pukul 22:59 · Suka
      • Khaerani Karimuddinaweee engkatu pale bettaka kasi landing helikopterq dlapanganx ponre… hehehe

        17 Januari pukul 3:14 melalui seluler · Suka
      • Muchtar Mnaimsuatu kemajuaan ,, ,, apa apa diponre uda maju ,

        17 Januari pukul 3:18 · Suka
      • Syarif Akbar Whija Ponrekita liat aj dampak negatipx nannt kedepan ….. tanaman ga bs subur lg air bersih susah …. trs sungai2 tercemar ……

        17 Januari pukul 3:48 · Suka · 1
      • Muchtar Mnaim‎+-

        17 Januari pukul 4:03 · Suka
      • Ihwan Kadirdisini bukan soal soal setuju atau tdk, menerima atau menolak, tapi bgm agar masykt mendapatkan bayaran mahal atas resiko besar yg akn diterima..kita tdk boleh seperti anak kecil yg langsung nurut aja ketika dikasi permen..konsepx itu yg harus diramu berdasarkan selera murni masyrkt, bukan sekadar memenuhi selera pemerintah. Blok lapaopao ini adalh kolam emas yg telah dan terus di intai oleh para ‘pemancing’ kakap..masyrkt jgn mau jadi ikan, jadilah jg sebg pemancing atau paling tdk penikmat ikan..2 milyar per 365 hari utk 2000 jiwa masykt ponre, itu tdk cukup buat beli deterjen utk membersihkan debu motor, kaca dan lantai rmh kita …hehehe…tabe’ di…

        17 Januari pukul 18:17 melalui seluler · Suka
      • Syarif Akbar Whija Ponremudah2n kecemburuan sosial tdk terjadi ….

        18 Januari pukul 4:17 · Suka
      • Muchtar Mnaimiyana tuu

        18 Januari pukul 4:19 · Suka
      • Mus Maenk Edogawajgn smpe smua itu menjdi ajang komplik,,,,, dan terjdi ksenjgn sosial,,,,,,

        20 Januari pukul 5:54 · Suka
      • Ihwan Kadirbiar tdk terjadi kesenjangan sosial maka hak konfensasi masyrkt penerima dampak harus diutamakan, dan layak. Kedua, hak pemilik lahan jelas harus ada porsi tersendiri. Terakhir baru hak desa, dlm hal ini aturanx sdh jelas dlm kepmen mengenai CSR…(rawan konflik kalau urutannya dibalik)

        20 Januari pukul 6:11 melalui seluler · Suka
      • Mus Maenk EdogawaMDAH2N smua itu terlaksana,,,,,,, jgn smpe itu cman skdr konsep belaka,,,,, dan hax menjdi janji manis yg terpenjara dalm politik etis,,,,,,,

        20 Januari pukul 6:45 · Suka
      • Rachmat Ardiansyahalhamdulillah sy bru dt info2 dr beberapa sumber yg terpercaya insya Allah,,, berbicara maslah korporasi pasti sngat identik dg kata cooperation (kerjasama), nah dlm konteks blok lapao pao ini, sy mndengar ktanya sblum adnya pengeloloaan lbh lnjut ktanya hrus diuji untuk pembuktian, yg sy dngar untuk sample itu katnya smpai 7 kapal, yg itu dkirim kluar negeri,,pa benar dmkian yh?? nah sy maksud dsni,,pihak desa yg besangkutan mnrut sy sbnarnya hrus lbh ketat dan transparan dlm mmngawasi proyek itu, jgn sampe trjd hal yg tdk dinginkn sprti penipuan,dll mgkin langkah yg konkrit yaaah btul butl dlm agreement (kesepakatan) itu hrus tertuang dlm bntuk tulisan (hitam diatas putih) bkan hnya lisan semata, krna ini mnyangkut hukum yg sngat sense…dan juga kalau qt mw mematok nilai nominal uang jgn sungkan2 langsung besar sy rasa lbh bgus… hehehe * idealis vs realis *

        20 Januari pukul 8:54 · Suka
      • Rachmat Ardiansyahtapi jujur sy masih pesimis dg mega proyek (kata kak azwar) ini.dg brbagai prtimbangan.

        20 Januari pukul 9:21 · Suka
      • Ihwan Kadirardi: rasio layak tidaknya mega proyek tsb bisa diprediksi kok, coba aja hitung kira2 brp deposit ore pada tanah 4000 ha dikali dgn hrg pasaran ore/ton lalu bandingkan dgn investasi yg harus ditanam olh pemodal. Dari sisi itu sy jg sdh sangsi, blm lagi rentang 2012-2014 yg msh sangat mungkin terjadi perubahan konstalasi politik baik lokal, regional, maupun nasional dimana inflikasix akn sangat berpengaruh pada kebijakan publik termasuk soal tambang. Justru itu sy mengkritisi konsep diatas. 10 milyar kalau cuma janji, ardi jg bisa kok…

        23 Januari pukul 4:07 melalui seluler · Suka
      • Syarif Akbar Whija Ponresy tidak iri dengn blok lapao pao biar tidak dapat racci, racci,na tapi yg saya takutkan epekx kedepan kasian ….sdh banyak bukti contok kcilx aja dsini d banjarmasin …. yg kaya makin kaya yg miskin tambah melarat …….

        23 Januari pukul 4:27 · Suka
      • Ihwan KadirSyarif : betul itu..dari semua daerah tambang di Indonesia, sepertinya blm ada yang masyrkatx makmur karena tambang. Hanya pengusaha dan penguasa yg menikmati, masyrkt tetap saja jadi korban.

        23 Januari pukul 5:04 melalui seluler · Suka
      • Syarif Akbar Whija Ponrebetul itu pak bukanx saya ga setuju atau cemburu kasian kodong nnti kampung kita kl tanah d gali trs pasti sunagaix jd tercemar warga sekitar jg tercemar sm debux …

        23 Januari pukul 5:06 · Suka
      • Ihwan Kadirdapmpak itu sdh pasti, tapi masyrkt sdh setuju wilayahx dikelola oleh perusahaan tanpa pikir panjang..dan budaya kita kalau ada yg mencoba kritis maka justru akn dianggap sbg musuh bersama..agak aneh juga kampung tercinta ini. Hehehe

        23 Januari pukul 5:20 melalui seluler · Suka
      • Rachmat Ardiansyahsolidaritas kekeluargaan mgkn itu yg tpat untuk mngmbarkan konteks masyarakat ponre skrg ini,, konsensus dah final…..yg melawan brrti mlwan kputsan konsensus??????,,,,

        23 Januari pukul 7:44 · Suka
      • Ihwan Kadirardi: sepanjang konsensus itu tetap tunduk pada nilai2 Ilahiah (ideologi), maka sy akan ikut didalamnya. Tetapi jika konsensus itu semata-mata tunduk pada suara mayoritas ala demokrasi, maka sampai kapanpun insya Allah akan sy tolak.

        24 Januari pukul 4:08 melalui seluler · Suka
      • Hamdan Syenokhz blum bisa berkomentar karena z blum pham sex, akan ttp tambang ni adalah proyek dari kaum2 yang saat ini menjajah bangsa???????????????????????????????????

        11 Februari pukul 5:25 · Suka · 1
      • Ardin MarennuBerapapun besar nilai yang di “janjikan” tdk akan pernah seimbang dgn kerusakan yg akan ditimbulkan….kasian masyarakat yg sdh merasa dalle loppo ni pole…tapi sebenarnya semakin besar yg dikeluarkan pt.ceria kpd masyarakat maka semakin besar pula manfaat yg akan diambil oleh perusahaan….berdiri di depan dan berkata TOLAK TAMBANG…..

        11 Februari pukul 5:47 melalui seluler · Suka
      • Wadhy WijaugiPRIHATIN….!!!

        11 Februari pukul 18:13 · Suka
      • AminuddinElbuqizy OwneOfrumahsehat BekamelbuqizyReposting; SEKALI LAGI SAY NO to TaMbanG…. sebab setiap saya ketemu orang (siapa saja) ketika berbicara soal Tambang, yang terlintas dipikiran mereka bukanlah janji manis perusahaan…namu DAMPAK yang ditimbulkan Kelak..sebab Dampaknya akan SELAMANYA sedangkan JANJI MANIS kalau pun -dapat- Berapapun NIlainya- hanya bertahan sementara, jika janji itu berbentuk Materai, materi habis, habis juga nikmatnya..sedangkan dampak tambang masih terus berlanjut hingga turun temurun…akibatnya juga.. gunung yang tadinya masih rimbun dengan pohon2 yang membawa kesejukan dan kesegaran udara kampung..akan musnah rata menjadi kubangan sumur besar yang bisa saja mengakibatkan erosi dan banjir serta longsor de el el……!!

        11 Februari pukul 23:25 · Suka
      • AminuddinElbuqizy OwneOfrumahsehat Bekamelbuqizysejak diputuskannya UUD pertambangan thn 2009.. UU ini msih sangat besar memberikan keuntungan terhadap pengusaha dan pemerintah…adapun untuk kesejahteraan masyarakat hanya janji manis yang takkan pernah bisa membayar seluruh kerugian alam dan lingkungan sekitar…

        11 Februari pukul 23:27 · Suka
      • Immawan Ya’kubkesepakatan kolektif di atas apa ada MOU atau tdk,,, kasus mesuji & dibima itu ada MOUx tapi lagi2 sipil yg dirugikan, apa lagi yg tdk ada.

        Minggu pukul 8:53 · Suka
      • Ihwan Kadir Yakub: Kesepakan yang dibuat pada minggu pertama januari 2012 itulah yg menuai protes berbagai pihak, khususnya soal sampel 7 kapal…
        Alhasil, kelihatannya skrg kesepakatan itu batal dgn sendirinya kecuali ponre yg konon tetap dapat 2 milyar… Wallahu a’lam.

        Minggu pukul 14:50 melalui seluler
    • Ardin Marennu

      logika sederhana proses berdirinya tambang di negeri ajaib bin aneh ini…………1. survey oleh pengusaha (sdh keluar uang)….2. pematangan data hasil survey (pasti keluar uang)….3. proses perijinan di birokrasi baik pemerintah desa, kecamatan, kabupaten….(keluar uang)…proses ini panjang dan bisa bertahun-tahun……4. sementara proses perijinan msh berjalan….di lapangan kegiatan dah mulai bergerak (keluar uang)….artinya tanah kita sdh mulai di obok2….artinya sdh ada kerusakan….(sampai sejauh ini masyarakat blm dapat apa2)….5. ijin keluar….perusahaan beroperasi…..(pasti keluar uang)…..6. barulah penerimaan pegawai/pekerja……ingat pegawai yg diterima biasanya tenaga kasar terlebih dahulu…..krn utk posisi yg “keren” biasanya dari luar…..(masyarakat dapat uang kecil)7. untuk menjadi pegawai pastilah harus melamar….pertanyaannya!!!…apakah diterima semua???…..jawabannya belum tentu…..(biasanya ada KKN disini)….8. pekerja dari masyarakat setempat yg diterima oleh perusahaan biasanya dijadikan bumper oleh perusahaan utk melawan org2 yg terus menyuarakan penolakan…..(dibenturkan)….9. PERUSAHAAN MENGELUARKAN BIAYA YG LUAR BIASA BESARNYA….APAKAH MAU SEGERA MEMBANGUN FASILITAS UTK MASYARAKAT SESUAI YG DIJANJIKAN!!!!…..SDH PASTI TIDAK, SEBELUM BISA MERAUP KEUNTUNGAN….APAKAH MASYARAKAT SEJAHTERA? JAWABANNYA BELUM TENTU, KRN SEIRING DGN UPAH DAN FEE YG DITERIMA KERUSAKAN JUGA SDH TERJADI…..penolakan ini bukanlah gagah-gagahan APALAGI KALAU SEKEDAR “TARO ADA DE’NA LICCI”….penolakan ini utk menyelamatkan org yg PRO maupun org yg KONTRA……god bless you all…

      Suka · · Ikuti Kiriman · 3 Februari pukul 20:31

      • Annang Dua Pitu menyukai ini.
        • Ahsin Saleh K-LinkSangat sepakat Bang, blom Sempurna Proses Administrasix sdh turun Lapangan n kbr Burukx Hx Ponre yg siappp Kawal sampai Explorasi,,, lauar biasa, Sodar2 kt nda tau kl dia dijdkn Obje olh pr Penguasa bahw itu tuntutan Masyarakat Ponre… biar diACC cpt diats kan n Sodar2 kt pung sgt Gembira dgn Iming2 Kerjaan…:0

          3 Februari pukul 20:39 ·
        • Tulis komentar…
    • Tulis komentar…

      Begitu kita lahir di dunia ini suara yg kita pertama terdengar dari mulut kecil kita adalah tangisan akan kerasnya kehidupan dan fitnah dunia…….tapi bagi anak cucu TPW begitu lahir yang terdengar bukan cuma tangisan akan kerasnya kehidupan dan fitnah dunia tetapi merka menangis karena telah kehilangan tanah merah yg semesti masih bisa mereka lihat dan cium baunya, mereka sdh tdk bisa lagi bermain di dalam hutan menangkap manu-manu bekku’……sayang sekali karena telinga kecil mereka akan mendengar cerita sejarah saja…..

      Tidak Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · 9 Februari pukul 4:03 melalui seluler
        • Ihwan Kadirsejarah negeri jajahan yg tidak hanya telah merampas habis kekayaan alamnya tapi juga telah melahirkan sejarah baru yang tidak lagi tahu benih sejarah manakah yang telah membuahi ibu pertiwinya sehingga lahir dan melahirkan ‘aku’??? Hehehe parah benner nih tambang…

          9 Februari pukul 4:19 melalui seluler · Suka
        • Ardin MarennuAnak cucu kita menangis…..sementara kita sudah berada di dalam “tanah merah” bersama keserakahan kita….. LAWAN!!!! (Bulu kuduk ku merinding saat menuliskan ini)

          9 Februari pukul 4:30 melalui seluler · Suka
        • Ardin MarennuAnak cucu kita menangis…..sementara kita sudah berada di dalam “tanah merah” bersama keserakahan kita….. LAWAN!!!! (Bulu kuduk ku merinding saat menuliskan ini)

          9 Februari pukul 4:31 melalui seluler · Suka
        • Ahsin Saleh K-LinkBG PEKERJA SKRNG bERMASA BODOH YG PENTING gAJI lANCAR…:) SY PUN MERASAKAN MERINDINGX…:)

          9 Februari pukul 4:35 · Suka
        • Ihwan KadirJujur, bulu kudukku tidak hanya merinding..tapi aku malu luar biasa pada diriku sendiri…

          9 Februari pukul 5:23 melalui seluler · Suka
        • Ardin Marennusaya masih ingat betul ketika suatu waktu masuk ke dalam hutan tanah merah bersama karimuddin (alm) mencari manu-manu bekku’ sambil makkalolo’ di bawah semak-semak tetapi kami hanya mendapat kotoran sapi milik bapaknya adding…..hahaha…..akankah anak cucu kita masih bisa merasakan itu…….mereka mungkin saja bisa meniru kita makkalolo’ mencari sesuatu tetapi yang mereka dapatkan adalah kotoran dari pengusaha yang sdh angkat kaki meninggalkan bekas tambang di hutan tanah merah kita………………..

          9 Februari pukul 5:44 · Suka
        • Ahsin Saleh K-LinkMlh skrg Kayu2 bakarx bxk yg diuntungkan(Pannasu Nilam,,,E’) jd truskan penebangan Pohonx sj biar anak2x bxk Ambil kayu toch…:)

          9 Februari pukul 5:49 · Suka
        • Ihwan Kadir Ardin: Sy bisa rasakan kegalauan hatimu, saudaraku…kamu pasti sdh sangat rindu kampung suasana ramah dan sejuk desa kita, kan? tapi percayalah…sebagian besar dari kami sangat bersyukur dgn akan dieksploitasinya tanah merah. Bahkan segelintir dari kami telah merasakan manis2nya. Mungkin hati kami telah buta dan silau oleh lampu gemerlapnya tambang…
          Ya Allah beri kami petunjuk..Jika tambang ini akan menjadi barokah buat kami, mudahkanlah, kirimkanlah kami ahli AMDAL yang berhati nurani, bukakanlah hati pengusaha dan penguasa kami untuk berbagi keuntungan secara adil kepada kami. Tapi jika tambang ini hanya akan menjadi bencana bagi kami, maka berilah kekuatan bagi orang-orang dari kami yang berani menolak, bantu mereka dgn tentara langitmu, bila perlu kirimkanlah burung ababilmu untuk melempari mesin-mesin penjagal itu..ya Allah ampuni dosa2 keserakahan kami. Hanya kepadamulah kami kembali…Amin ya rabbal alamin…

          9 Februari pukul 6:42 melalui seluler · Suka
        • Ardin MarennuIhwan Kadir….hahaha…suasana desa beberapa tahun yang lalu ketika sungai masih jernih….melihat saudara judding dan asri mappappe’ doang llotong….dan om ancu makkaremo doang ternyata yang keluar ula’ lotong…..masih bisakah kita melihat anak cucu kita merasakan suasana seperti itu kalau tambang telah mengotori sungai kita??…….saudaraku semua tambang adalah bencana yang dikemas dalam bentuk kesejahteraan semu…janji palsu….janci mutaro’e…atau kata2 apapun yg pantas utk menggambarkan tambang…tetap bencana pada akhirnya…entah itu bencana lingkungan atau bencana sosial….hindarkan kami dari itu ya Allah…

          9 Februari pukul 7:44 ·
        • Tulis komentar…

          Hasil dialog sy via tlp dengan pemimpin kt pak Kades di TPW secara garis besarnya:
          1.pernyataan sikap sy terhadap beliau bahwa sy menolak dan akan terus berkata tidak untuk pertambangan di daerah kita.
          2.beliau menjelaskan status daerah kita secara hukum mulai dr status PT.INCO & PT.CERIA terhadap lahan dr tahun 68 kemudian kedatangan orang tua kita di tahun 71 sampai sekarang ini,rencana dan proses dibukanya tambang kemudian situasi yg berkembang di masyarakat,sikap dan tindakan beliau yg telah ditempuh dlm masalah ini,kesemua kronologis dr poin 2 diatas teman2 semua telah mengetaui dan pahami,untuk sementara ini sy pribadi menarik kesimpulan bahwa eksplorasi dr pertambangan ini akan terus berlanjut “terlepas dr sah atau tidak sahnya surat ijin”
          3.menanggapi poin ke 2 diatas sy mengajukan aspirasi sy kepada beliau yaitu:
          a.mengkaji ulang bentuk perjanjian pembagian hasil ke masyarakat yaitu menyesuaikan dengan nilai jual yg setiap saat bs berubah,menyesuaikan dng nilai tukar mata uang USD dng IDR pada pada masa itu,pembagian hasil sesuai dengan jumlah atau Quantity yg di hasilkan dan menaikkan jumlah pembagian ke masyarakat dr 2$/MT ke jumlah yg lebih tinggi.
          b.melibatkan advokate agar kita paham dan kuat secara hukum.
          c.melibatkan pakar pertambangan agar kt paham akan jumlah dan hasil serta jangka waktu produksi.
          d.menuntut PT.CERIA akan pembayaran ganti rugi akibat dampak yg ditimbulkan terhadap masyarakat dan lingkungan.
          e.membentuk lembaga yg berfungsi mengawasi khusus kegiatan pertambangan serta dampak ke alam dan sosial budaya yg di timbulkan ke masyarakat.
          f.berdialog dan mengambil keputusan dng melibatkan semua element masyarakat mulai dr yg awam,terpelajar,cerdik pandai,tokoh2,pejabat yg berada di dlm dan diluat TPW.
          Alhamdulillah beliau bersedia mendengarkan dan menampung semua aspirasi sy untuk dijadikan bahan pertimbangan dlm mengambil keputusan nantinya.
          apabila kedepannya sy mendapatkan ide atau aspirasi yg menurut sy baik sy akan selalu teruskan kpd beliau..
          Tanpa bermaksud memprovokasi teman2 semua,apabila ada suatu kelompok atau lembaga yg menentang diadakannya proyek pertambangan ini maka sy memberikan dukungan sepenuhnya dlm bentuk apapun sesuai dengan kemampuan dan kapasitas sy,sebab sy tidak akan pernah menyatakan setuju dgn dibuknya pertambangan di tanah kelahiran sy tercinta,di terimah atau tidak oleh masyarakat.
          sikap dan pernyataan sy ini adalah murni krn bentuk raca cinta sy terhadap kampung halaman sy tanpa ada kepentingan apapun didalamnya dan sy sgt menyesal krn hanya mampu menulis dan berucap tanpa bisa berbuat apapun…salam kekeluargaan dan tetap bersatu,wassalam…

          Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · 7 Februari pukul 12:02 sekitar Outram Park, Singapore

            • Ardin MarennuSalut…..saya rasa kita satu visi sappo…dan apa yg saudara aztwar tulis telah menggambarkan secara gamblang pandangan sy terhadap tambang di desa TPW..mudah2 an kita yg berada jauh dari TPW bisa menjadi motor penggerak penolakan dan kontrol trhdp tambang di desa TPW…..insyaallah sy akan segera hub….sehat dan sukses selalu salam buat keluarga….

              7 Februari pukul 15:58 melalui seluler · Suka
            • AminuddinElbuqizy OwneOfrumahsehat BekamelbuqizyBrilliant kanda…. KITA HARUS TEGAS BERKATA TIDAK/MENOLAK TAMBANG…tentunya dengan pertimbangan kemaslahatan kampung tercinta…

              7 Februari pukul 20:18 · Suka
            • Ihwan KadirArdin & Aminuddin : Menolak itu itu sikap yang terhormat, tapi bukan solusi………………

              7 Februari pukul 23:07 · Suka · 1
            • Aztwar Ottoyiye ndi’ Aminuddin…kt yg berada diluar ini hanya bisa berteriak dr jauh tanpa bisa berbuat apa2 toh seandainya tambang itu jalan terus kt yg menolak ini harus memposisikan dr kt sebagai kontrol dan membantu mengingatkan pemerintah kt melalui sumbangsi ide dan pemikiran untuk terus menetapkan kebijakan2 yg baik dan tidak merugikan kt semua,tentunya pemerintah membutuhkan itu,dan alhamdulillah pemerintah kita sngat senang dan menyambut baik ini semua,jd disini kt yg menolak bukan berarti berbeda atau malah menghalangi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan berupa materi akan tetapi malah berusaha untuk mendapatkan yg lebih baik lg Amin!!!

              7 Februari pukul 23:08 · Suka
            • Ihwan KadirAztwar: Saya sangat menghormati sikap teman2 yang dengan tegas menolak tapi faktanya di lapangan tidak sesederhana itu. Satu-satunya kekuatan yang bisa menolak adalah jika masyarakat setempat memang bersatu untuk berkata TIDAK. Tapi untuk saat ini jauh, bahkan sebaliknya. Mungkin penolakan itu akan muncul ketika tambang sudah jalan dan ternyata tidak sesuai dengan harapan masyarakat………….

              7 Februari pukul 23:19 · Suka · 1
            • Ikar Lampa’esebuah pemikran yg futuristik….

              7 Februari pukul 23:25 · Suka
            • AminuddinElbuqizy OwneOfrumahsehat Bekamelbuqizy Om Ihwan Kadir, Betul Sekali Penolakan itu bukanlah Solusi, penolakan ini hanya merupakan Sikap ketidak-terimaan terhadap adanya tambang dan segala resiko2 yang muncul nantinya…. yang disampaikan oleh bang Aztwar Ottoyadalah betul.. mungki jika kita berada diwilayah perkara tambang ini kita bisa menjadi kontroler atw pengingat terhadap masyarakat dan jalannya tambang… namun saat ini yang bisa kita lakukan hanya bisa berteriak berkata TIDAK…dan Bersuara Sumbang mencoba untuk memberikan pendapat walau itu jauh dari kenyataan yang sudah ada saat ini….!

              7 Februari pukul 23:49 · Suka
            • Ardin Marennu‎@ihwan…betul sekali menolak bukan solusi….saya ternyata perlu tekankan kembali bahwa kami menolak tambang bukan berarti berusaha menggagalkan tambang…krn kami sadar betul bahwa itu sangat riskan dan melukai harapan besar masyarakat TPW….kami menolak disini adalah bentuk dukungan kami terhadap kerja pemerintah desa sampai pemda dan propinsi bahwa harus ada kontrol yg kuat terhadap tambang sehingga tidak merusak tatanan kehidupan masyarakat……dan jangan merasa gerah dgn penolakan ini krn suatu saat akan sangat dibutuhkan ketika tambang memang sdh terbuka…..insyaallah sy beserta teman2 sdh menyatukan persepsi dan akan bertindak lebih lanjut….salam sukses semuanya….

              8 Februari pukul 0:01 melalui seluler · Suka · 1
            • Ikar Lampa’eberarti bahasa penolakan disini tidak tepat dong… mungkin lebih tepat dan sedrhana kalo di katakan berbisnis,,, heuheuheu

              8 Februari pukul 0:16 · Suka
            • Anlin’k AnharSlm..ketidak sesuaian harapan dan kenyataan akan terjadi jika harapan itu di benturkan dgn kondisi yg mengharuskan kita meneteskan airmata penyesalan… Sy cukup paham jika hari ini jika sebagian msy sah2 sj menerima konsep PT. CNI karena mereka berangkat dari ketidak pahaman tentang kondisi hari esok jika masuk dalam kawasan pertambangan…mereka bukan lawan atau musuh mereka harus jd kawan tuk bersama mengkaji kondisi ini tuk kesejahtaan bersama

              8 Februari pukul 0:21 melalui seluler · Suka
            • Ihwan KadirArdin dan semua: Jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, maka kita adalah kawan…(che guevara)

              8 Februari pukul 2:02 melalui seluler · Suka · 2
            • Aztwar Ottoysemua…sy sudah ungkapkan sebelumnya bahwa (saya pribadi) menolak dng tegas rencana pertambangan tentunya dng alasan sy dampak negatifnya,kemudian sebagian besar masyarakat kt yg sudah terlanjur menginginkan krn mungkin keadaan ekonomi yg lg serba susah

              8 Februari pukul 3:59 · Suka
            • Ikar Lampa’eiye kanda.. krn mayrakat sekarang berfikir dampak positif yg jauh lebih bnyak di banding hanya dampak lingkungan, bgt bnyak saudara2 kita pengannguran, seandainya sj mereka tdk kerja trus mencuri kan yg rusak kita semua kanda.. hehhehe

              8 Februari pukul 4:04 · Suka
            • Aztwar Ottoysehingga hanya mampu melihat dr dampak positivnya maka dari itu untuk tidak melukai hati dan perasaan keluarga kita kami akan memposisikan dr sebagai kontrol agar supaya dampak negative yg telah km pikirkan itu dapat diminimalisir se kecil mungkin.

              8 Februari pukul 4:05 · Suka
            • Ikar Lampa’esy sepakat dgn upaya meminmalisir dampak negative, perlu ada forum pengawas kanda kyknya,,,

              8 Februari pukul 4:07 · Suka
            • Aztwar Ottoyiye ndi ikar,ditambah lg agar masyarakat kita mendapatkan hasil yg benar2 sesuai…

              8 Februari pukul 4:23 · Suka
            • Ardin Marennualhamdulillah tdk ada saudara2ku keluarga besar TPW yg berseberangan karena beda pola pikir….saudara2ku yg berharap manfaat dari tambang mungkin bisa mempersiapkan diri dgn meningkat keterampilannya begitu pula dgn saudara2ku yg kontra….namun jangan manganggap saudara2ku yang menginginkan kontrol yg kuat terhadap tambang melalui suara penolakan adalah lawan apalagi musuh….bukankah magnet berfungsi dgn baik ketika ada negatif dan ada positif….sehingga bisa ada energi di sana….mari kita bergandeng tangan utk kemajuan TPW…..

              8 Februari pukul 4:31 · Suka
            • Ihwan KadirArdin: yg paling menikmati berkah tambang disultra ini adalah oknum pemerintah melalui pengusaha yg mereka pelihara atau yang memelihara mereka..rakyat sesekali keciprat untk alat legitimasi atau jika menjelang pemilu, jadi membantu pemerintah dalam hal ini, itu sama saja membantu perusahaan tambang utk merusak lingkungan. Jika berani berkata tidak, beranilah dgn segala konsekwensinya…

              8 Februari pukul 16:16 melalui seluler · Suka
            • Ahsin Saleh K-LinkSy sepakat bang Aztwar Ottoy ma Om Iwan, Seharusx fungsikan Pengawalan kt dilapangan bkn hx sekedar berteori dsn, krn kasian keluarga Besar kt Nantix kena Dampak Eksplorasi, yg tdk sesuai hasil BUMI kt yg diAngkut keluar nantix, Berdasarkan hasil keputusan di dihadapn Sidang Paripurna, tak ada penambangan sblm ada PABRIK yg didirikan pemenang Tender blok Lapao-pao kan lbh bxk Lapangan Pekerjaan yg terbuka, Kasian Sodara2 kt yg diluar Ponre… Sementara Masyarakt diminta u mengawalx PT.Ceria mengeluarkan 7kapal sampel, apa bkn Apa nich…? Nanti ketika Masyarakt Berteriak keatas barulah terhenti Sosialisasix akn keluar sekian kpl… Kasian….? Sementara hx Kampoeng ktlah yg Siap Mati U Mengawalx… Sy Yakin Bang Ardin Taulah seperti apa kondisi Penambangan diKalimantan,,, seperti apa…? Pokokx lbh bgs kt balik u meliht lsg kondisix dilapangan… n lbh bgs Kl Pabrik yg ada bs jauh lbh tertata Blok Lapao-pao n tingkat Kesejahteraan jauh Meningkat…:)

              8 Februari pukul 17:27 · Suka
            • Ihwan KadirAhsin@ justru sy sangat mendukung bung Aztwar, bung Ardin dan bung Aminudin kalau berani melakukan langkah rill untuk membatalkan proyek ini. Bukan sekedar menolak. Gimannna???

              8 Februari pukul 17:46 melalui seluler · Suka
            • Ahsin Saleh K-LinkMantaaappp…. Lanjutkan Perjuanganta smuax…:)

              8 Februari pukul 17:56 · Suka
            • Ardin Marennu‎@ihwan…..siap!!!! saya beserta teman2 sedang menyusun konsep apa yg kira bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah desa dan diteruskan ke pemerintah daerah…….ingat kawan..kami tdk sekedar menolak…tapi mengingatkan kita semua sedari awal agar tdk terjadi salah langkah dalam mengambil keputusan yg menyangkut hajat hidup org banyak…..alangkah indahnya hidup kalau kita saling mengingatkan, meninggalkan kerusakan atau menuju kepada kebaikan…selamat berjuang…sukses slalu..

              8 Februari pukul 19:41 melalui seluler · Suka

One thought on “Obrolan Blok Lapao-pao di Facebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s